Maaf untuk Nara

Maaf untuk Nara

Oleh Nuris Tyanti

Matahari nampak hampir tenggelam di peraduannya. Nara membuka pintu dengan riang, menyambut kedatangan seorang cowok tampan dan memesona, namanya Tomi. Tomi tersenyum, “hai Ara.” sapanya di ujung pintu. Nara sempat nganga akibat senyum maut Tomi beberapa detik lalu, cepat-cepat menyahut agar muka begonya itu tidak lama-lama ia perlihatkan pada cowok pujaan hatinya itu.

“Ha, hai juga Mas.. Hehee” ucapnya sambil mempersilakan Tomi masuk.

Sesampainya di ruang tamu, Tomi celingukan, mencari sesuatu. “Eeem.. rumah sepi banget Ra?” katanya, sambil melenggang masuk. “iya Mas, seperti biasa, hem..” jawab Nara disudahi dengan senyum simpelnya. Tomi mengangguk, “si Lisa mana Ra? Kok ngga kelihatan?” tanyanya.

“Mba Lisa dari tadi belum pulang Mas, tapi bentar lagi juga pulang kok.” Ucap Nara sembari ngeloyor ke dapur,  membuatkan Tomi minum. “sama Mas Bayu perginya?” tanya Tomi lagi. Ngga lama Nara tiba dengan dua gelas minuman. “iya Mas. Sebel deh.. Nara ngga diajakin. Huh..!” serunya sambil menghempaskan diri ke sofa. Tomi ketawa kecil, melihat ekspresi wajah Nara yang konyol, manyun-manyun ngga karuan gituh. Bibirnya semakin runcing ketika Tomi menertawakannya, “Ugh! Apaan sih Mas Tomi, ih! Nara tuh lagi kesel, ngga ada yang lucu!” katanya sewot.

Tomi menyudahi tawanya, “iya, iya, maaf deeeh..” ucapnya, lalu tersenyum. OMG… mana bisa marah aku kalo udah dikasih senyum Mas Tomi yang super duper HOT! Bikin lumer ajah. Nara langsung hilang kendali atas dirinya, dan berlaku ngga karuan karena saking geroginya. Pantas Tomi suka ngejekin Nara dengan sebutan seribu wajah. Lihat saja wajah Nara, yang tiap detik berubah ekspresinya. Hahaha..

Uuuh.. aku ngga pernah tahan kalo diliatain kaya gini. Ampuun dah! Kalo ibarat ikan, aku udah kaya ikan keabisan napas, kelepek-kelepek aku dibuatnya.. OMG! Nara mengoceh dalam hati sambil tak henti minum. Saking ngga koneknya, Nara sampai-sampai mengembat minuman Tomi. Tomi sendiri hanya membiarkan saja Nara dengan tingkah konyolnya, sambil tanpa jemu terus memandangi cewe yang 2 tahun lebih muda darinya itu. Lucu, gumam Tomi.

“loh Tom, sejak kapan kamu di sini?”

Suara berat milik Mas Bayu menyapa kedua makhluk yang tengah duduk di sofa, yang saking asyiknya kedua makhluk itu tidak menyadari kedatangan Bayu  dan Lisa. Keduanya kaget, “Eh. Eem.. belum lama.” Ucap Tomi setelah berhasil mengontrol kendali atas dirinya. Sementara Nara langsung ngeloyor pergi sambil membenamkan mukanya yang merah dengan bantal sofa.

Entah apa maksud kedatangan Tomi ke rumah, yang jelas, walaupun malu bukan main, tapi perasaan senang Nara tidak bisa dipungkiri.  Nara menulis dibuku diarynya:

Mas Rendra, Ara seneeeeng banget.. hari ini Mas Tomi main ke rumah, hehehe. Tapi Mas Bayu sama Mba Lisa nyebelin deh, kan Ara masih pengen berdua-duaan sama Mas Tomi, hehe. Tapi yauda deh, yang penting hari ini Ara seneng. J

“Ra, ayo makan.” Seru Mba Lisa dari  arah bawah kamarnya. “iya Mba, sebentar..” sahutnya, sambil menutup pintu kamarnya. Nara melihat kamar mas Rendra terbuka sedikit, ada orang di kamar Mas Rendra. Siapa ya? Tanyanya sambil berjalan pelan menuju kamar yang letaknya tidak jauh dari kamarnya, kamar Rendra.

 Rendra kakak laki-laki yang meninggal akibat kecelakaan. Ayah dan ibu sudah bercerai, karena sesuatu hal yang Nara dan kakaknya tidak tahu apa alasannya. Sedangkan Bayu, anak pertama yang merupakan kakak dari Rendra dan Nara adalah tulang punggung keluarga setelah ibu meninggal, dan Lisa adalah istri Bayu.

Nara tidak pernah tahu bagaimana sosok Rendra, karena Nara dan Bayu ikut ibu, sedangkan Rendra dibawa ayah. Hanya saja, Rendra kecil yang beda 2tahun dengan Nara sering main ke rumah, orang yang sangat dekat dengan Nara, dan teman bermain sekaligus orang yang melindungi Nara kala itu. Tapi setelah Ayah menikah lagi, Rendra yang baru berusia 8tahun tidak pernah main lagi. Sampai pada satu ketika Nara kabur dari rumah, karena tidak sengaja terpukul oleh Bayu saat Bayu dan Lisa bertengkar hebat.

Hari itu hujan deras, Bayu meminta tolong pada Rendra untuk membujuk Nara pulang. Dan benar saja, Nara hanya ingin pulang jika Rendra menjemputnya. Tapi belum sempat ia berjumpa dengan Rendra, kakak yang amat ia rindukan, Rendra, ia mengalami kecelakaan.

Nara mendekati pintu yang terbuka itu, di lihatnya sosok tinggi kekar, sedang berbicara dengan seseorang. Huft.. ternyata Mas Bayu.. Nara berucap pelan, sambil mengurut dadanya, lega. Nara penasaran dengan orang yang sedang diajak ngobrol Bayu, tapi karena tidak ingin mengambil resiko, Nara mengurungkan niatnya untuk lebih mendekat lagi. Nara tetap berada di posisinya, kemudian memasang daun telinganya untuk mendengarkan pembicaraan Bayu.

Tiba-tiba terdengar suara hantaman keras pada benda seperti meja.

BUGH!

Nara terkejut, cepat ia menyumbat mulutnya dengan telapak tangannya. Suasana dalam kamar terdengar hening sesaat. “Maaf Tom, Mas kebawa emosi.” Ucap Bayu pada seseorang yang ternyata adalah Tomi. “iya gapapa Mas, Mas patut marah ko. Tapi Tomi mohon Mas, izinin Tomi nebus kesalahan Tomi..” ucap Tomi dengan nada terisak. Nara terkejut, hah?! Mas Tomi nangis? Kenapa? Tanyanya dalam hati, masih pada posisinya, mendengarkan pembicaraan di dalam.

“Tomi juga udah janji sama Rendra, tolong bantu Tomi nepatin janji Tomi ke Rendra Mas, maafin Tomi mas..”

Kembali terdengan suara Tomi yang nadanya terdengar begitu menyedihkan, rasa bersalah kah? Tapi kenapa? Beberapa tanya muncul memenuhi ruang kepala Nara. Entah apa lagi yang kedua orang itu bicarakan, Nara sudah tidak mendengarkan, seolah ada hal yang begitu tidak ingin didengar olehnya, Nara dengan segera menuju ruang makan, dimana ada Mba Lisa sedang menyiapkan makanan di sana.

***

Nara agak pemurung akhir-akhir ini. Walau Tomi datang ke rumahnya, Nara hanya bicara seperlu dan sekenanya. Moodnya sedang tidak baik rupanya. Entah kenapa, Nara sering menangis tanpa ia tahu apa sebabnya.

Malam ini, malam minggu. Tomi datang seperti biasanya, tapi kali ini dia datang bersama seorang gadis belia, nampak seumuran dengan Nara. Padahal sudah susah payah membujuk Nara agar ke luar dari kamarnya, tapi setelah tahu Tomi bersama dengan seseorang, Nara berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Tomi mengejarnya, dan UPS..! hampir saja Nara menghantamkan pintu kamarnya pada tangan Tomi yang berusaha menahan Nara menutup kamarnya. Nara tidak peduli ada Tomi di kamarnya. Nara duduk di atas kasur, tersedu-sedu dengan telapak tangan menutupi wajahnya.

Ada hangat yang menjalari tubuhnya lewat rengkuhan tangan Tomi. “jangan nangis, Ra..” ucap Tomi lembut, tapi Nara tetap pada posisinya. “Ra, kamu tahu siapa cewe yang aku ajak?” tanya Tomi pelan, sambil berusaha menyingkirkan telapak tangan Nara dari wajah ayunya. Tomi berhasil, dilihatnya Ara yang mendelik dengan kesal pada Tomi. Tomi tetap tenang, dia maklum dengan reaksi Nara yang seperti itu.

“dia Linda, ade aku.” Ucap Tomi sedikit menentramkan hati Nara, terlihat tatapan Nara yang tadinya kesal jadi bingung, “adik?” tanyanya menengadah. Tomi menarik nafas, dan mengeluarkannya perlahan.” Iya Ra, dia ade aku.” Ucapnya pelan, “ade yang 2tahun lalu sakit keras, yang pada saat itu aku minta anter Rendra bawa dia ke RS. Buru-buru dia ke RS, tapi konsentrasi Rendra buyar, entah kenapa Rendra tiba-tiba panik setelah angkat telepon.” Tambah Tomi, memaparkan cerita 2tahun lalu.

Tomi memaparkan kronologis kecelakaan yang telah merenggut nyawa Rendra. Kecelakaan yang terjadi setelah Rendra mengantar adiknya ke RS, kecelakaan yang juga membuatnya luka, tapi tidak separah luka Rendra yang kemudian meninggal di RS. Tomi merasa bersalah, ia berpikir: andai saja pada saat itu dia tidak meminta Rendra mengantarkan Linda ke RS. Mungkin Rendra tidak akan mendapatkan kecelakaan. Sebelum Rendra meninggal, ia berpesan pada Tomi agar menjaga Nara. Tomi pada awalnya memang hanya sekedar ingin melindungi Nara sebagai adiknya, sama halnya Linda. Tapi ternyata cinta datang pada hati keduanya.

“Maafin aku Ra..” ucap Tomi dengan butiran-butiran bening yang menitik dari matanya.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Tomi, “ngga ada guna kamu minta maaf Tom. Toh Mas Rendra udah ngga ada..” ucap Nara parau, air matanya sedari tadi tumpah, membasahi pipi dan hatinya. Suasana hening beberapa saat. “aku ngga nyangka Tom, orang yang udah aku sayang banget, ternyata adalah orang yang seharusnya aku BENCI!” ucap Nara, marah. Tomi hanya diam saja, ia terima perlakuan Nara dan ucapan Nara atas dirinya, dan ia terima jika ia harus dibenci  oleh orang yang juga telah ia sayangi.

“Agggggggggggh!!!! Aku BENCI kamu Tom! Aku benciii..!!! keluar dari kamar aku! KELUAAAR!!! DASAR PEMBUNUH! KELUAAAR..!!!”

“Nara! Apa-apaan kamu!”  Bayu dengan segera menarik Nara yang membuta, memukuli Tomi tanpa ampun. Lisa memeluk Linda yang menangis melihat kakaknya dipukuli, sedangkan Tomi hanya diam saja. Nara teriak-teriak, dan hanya satu kata yang keluar dari mulutnya, PEMBUNUH.

Bayu nyaris menampar Nara, tapi itu tidak jadi ia lakukan. Dipeluknya Nara, sampai Nara mulai tenang, Bayu membuka pembicaraan, “semua yang diceritain Tomi benar Ra. Hanya saja, kamu ngga seharusnya marah membabi buta kaya gitu.” Ucap Bayu.

“tapi Mas..”

“ngga ada kata tapi, Ra. Karena semuanya salah. Kakak salah, udah nyuruh Rendra ngebujuk kamu, kamu juga salah telepon Ka Rendra yang pada saat itu sedang menyetir.” Tangkas Bayu, dengan pandangan kosong. Nara tercengang mendengar kata-demi kata yang keluar dari mulut Bayu.

“Jangan menyalahkan siapapun, Ra. Karena memang tidak ada yang patut untuk dipersalahkan. Karena semua orang pasti akan mengalami kematian, dan karena kematian adalah sebagian takdir seseorang..” ucap Bayu dengan suara bergetar, matanya berkaca. “sedih memang, jika kita kehilangan orang yang kita sayang, dan kita juga berhak untuk menangis. Tapi bukan berarti kita meratapi kesedihan. Ngerti Ra..?”

Nara mengangguk, sambil berlinangan air mata Nara memeluk tubuh kakaknya, “iya Mas Bayu, Nara ngerti. Huhuhuuu…” ucapnya, sambil menangis tiada henti. Bayu mencium kening Nara. Nara kemudian mengusap air mata yang tengah membanjiri pipinya, lalu ia berjalan ke arah Tomi.

“Tom, aku minta…” belum sempat ia mengutarakan maksudnya, Tomi memutus kalimatnya, “aku minta maaf Ra.” Katanya pada Nara, Nara tersenyum manis. “trus???” tanya Nara dengan nada menggoda sambil mencolek dagu Tomi, centil. Hihii.

“apanya?”

“kok apanya sih? Emang kamu ngga mau bilang sesuatu lagi selain maaf?”

Kalimat Nara itu spontan membuat yang lain tertawa.

“Mmm, apa ya.. ngga ada lagi kayanya Ra. Aku cuma mau bilang, MAAF Nara, maaf aku udah sayang sama kamu. Kamu mau jadi pacar aku?”

Dan jawaban terakhir Nara adalah, 1 kata:

“MAUUUUUU… Hehehe..”

TAMAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s