Hari Setelah Hujan

Hari Setelah Hujan

Oleh Nuris Tyanti

Tidak berlebihan memang, jika suntuk, kantuk dan lelah tiba-tiba hilang setelah jam perkuliahan usai. Siang itu cuaca kota Kembang sudah nampak abu, udara dinginpun sejuk menyapu kulit.

“It’s time to shopping, guys.” Seru Wita pada kedua teman di kiri kanannya, Rosa dan Meli. Tanpa panjang lebar ketiga dara itu langsung nyelonong pergi, ke tempat perbelanjaan kegemaran semua orang, dari yang muda sampai yang tua, termasuk kakek-nenek mungkin.

Diperjalanan Rosa, atau sebut saja Oca, mendapat inbox dari Juli, Andi dan Radit pacarnya.

Juli:

Cha, ada yg mw tteh omongin. Tp gag bisa Lwt sms mah.

Nnt ja teh tLp Ocha. Cha Sabar yah.

Andi:

Cha, jgn emosi ok Cha. Nnt klo bisa d’omongin ja baek2.

Radit:

Iya yank, sok aja klo mw blnja mah. Hpy aja dlu..

Ocha bingung kenapa tiba-tiba kedua sobatnya plus cowonya mengirim sms yang isinya seperti itu. Emangnya, kalo udah hepi kenapa? Tanya Oca dalam hati, memikirkan setiap kata yang terpajang di layar hpnya. Tapi, berhubung segala macam model baju terpampang dari ujung ke ujung, tetap tidak membuat niatnya buyar untuk belanja. Oca dan kawan-kawan menjejali setiap toko dan mengeruk apapun  isinya yang mereka suka.

Tanpa terasa, hari sudah gelap, disertai gerimis membasahi bumi. Rasa penat telah menjalar dan menjamuri kaki Oca dan kawan-kawan, begitu pula para cacing di perut mereka yang sedari tadi sudah berunjuk rasa, berdemo minta makan. Kontan saja perut ketiganya mengeluarkan bunyi nyaring, kruyuuuk…  ketiganya saling menatap, kemudian tertawa. “Ayo kita makan. Perut aku udah lapar nih..”  ucap Wita sambil memegangi perutnya, sedang kedua temannya mengangguk setuju.

Ketiganya memesan makanan, dan sambil menunggu makanannya datang, Oca kembali teringat sms dari Radit.

“Kenapa Cha?” tanya Meli, membuka pembicaraan. Oca menoleh, kemudian tersenyum kecil “ngga papa Mel,” ucapnya. “Aku bingung aja, apa ya maksudnya Radit?” tambahnya sambil masih melihat layar hp-nya.

“Emang si Radit ngomong apa ma kamu Cha?” tanya Meli lagi.

“Dia bilang, aku hepi dulu aja. Maksudnya apa yah?” ucap Oca, diakhiri hembusan nafas panjang. Kemudian Oca melanjutkan, “ko aku mikirnya, kalo aku udah hepi-hepi atau seneng-seneng, emang aku bakal apa?” tambahnya dengan pertanyaan diakhir. Wita memandangi Meli dan Oca bergantian. Seperti biasa, temen kita yang satu ini emang sedikit tulalit, jadi mau ngomongin apa pun pasti lodingnya lama, alias ngga nyambung gituh.

“Ko si Radit ngomong gitu ya? Emang kalian lagi ada masalah?” tanya Meli. Oca menggeleng, “ngga ada masalah apapun Mel, kita baik-baik aja ko” tuturnya pelan. Kini bukan hanya hari yang nampak basah karna hujan yang mulai tumpah bukan lagi gerimis kecil, tapi wajah Oca-pun mulai mendung. Oca menyudahi ceritanya ketika makanan mereka tersaji di depan mata. Huuum… waktunya makan ini mah, bukan cerita lagi.

Setelah selesai makan, mereka kembali pulang. Diperjalanan pulang, Meli sengaja diam, tidak ingin bertanya di saat yang ngga tepat. Nanti juga kalo udah enakkan, Oca pasti cerita. Pikirnya sambil duduk manis di dalam mobil yang diguyur air hujan deras. Mereka kembali ke tempat masing-masing. Sementara Oca masih jalan melewati gang, bajunya sudah basah terkena air hujan. Oca ingat, sebelum sampai di gang, Radit sms yang isinya: ia ingin bertemu dan mengatakan sesuatau yang katanya penting. Walaupun Oca bilang nanti aja, besok lagi. Tapi Radit tetap saja minta hari ini juga, lebih cepat lebih baik katanya.

Rosa sampai juga di halaman depan, ia duduk di salah satu kursi sambil menggigil kedinginan. Oca mengambil hp-nya, kemudian mengetik sesuatu:

Dit, klo mw ke sni bwa payung ya, msh ujn. Atw klo ngga, nnt nunggu ujn’y reda aja..

Inbox dari Radit: udh mw nympe ko.

Mendapat balasan pesan seperti itu, Rosa hanya mengiyakan. Ia ke dalam sebentar mengambil air teh hangat, untuk Radit tentunya. Benar saja Radit datang dengan baju yang basah terguyur hujan. Oca memberikannya secangkir air teh hangat, dan Radit meminumnya. Radit duduk tepat di sebelahnya.

“Belum ganti baju?” kata Radit melihat baju pacarnya dalam kedaan basah, dan bibirnya yang membiru kedinginan. Oca menggeleng, “gapapa, nanti aja.” Katanya sambil memegang cangkir teh yang masih hangat, suaranya sedikit bergetar, karna udara malam yang dingin plus hari setelah hujan. Hujan memang sudah tidak deras lagi, bahkan sudah reda. Tetapi sisa-sisa air hujan pada ranting-ranting dedaunan serta genting rumah, membuatnya nampak seperti gerimis kecil.

Cukup lama mereka saling diam. Kemudian, sunyi keduanya itu buyar ketika suara getar hp Oca merayap hingga genderang telinga keduanya. Oca melihat layar hp-nya, ada pesan dari Juli ternyata. Oca membacanya, isinya:

Oca uda ngomong ma Radit?

Kemudian Oca membalas sms tersebut: ini Aditnya juga baru dteng teh. Tp dri tdi dy diem aja.

Setelah pesan itu terkirim, Juli tidak membalasnya. Susana kembali hening sesaat. Dari tadi ada sesuatu yang teramat menyesakkan hatinya, tapi Oca tidak tahu apa sebabnya. Sakit, tapi tak bisa terungkapkan. Oca menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. “Kamu mau ngomong apa yank?” katanya pelan, sambil dipandangi wajah kekasihnya itu dengan sayu.

Radit menghembus nafas panjang dan perlahan, seolah ingin mengatakan satu hal yang memberatkannya. “Sebelumnya, aku udah pernah cerita tentang Tia kan?” ucapnya dengan tanpa membalas menatap Rosa. Arah matanya entah menatap ke mana, kemudian Radit tertunduk.

Tia adalah seorang gadis yang sejak dulu sebelum Radit berkuliah di Bandung, memang sudah menjadi gadis incarannya. Tapi setiap kali Radit menyatakan persaannya, dengan maksud hati ingin menjadikan Tia sebagai pacarnya, tapi maksud hati Radit tak kunjung berbalas. Sampai pada saat ia pergi ke Bandung karena kuliahnya, Radit kembali menyatakan persaannya pada Tia. Tapi yang Tia katakan adalah penggantungan statusnya yang tidak jelas. Tia berkata, tidak bisa menerima Radit. Tapi jika setelah kuliah, atau suatu saat nanti Tia berkenan menerima Radit, barulah Tia menghubunginya. Lalu, saat pertama kali masuk kuliah, saat pertama kali menjadi mahasiswa, Radit bertemu dengan Rosa. Awal itu Rosa belum mengenakan kerudung, dan memang Rosa masih mempunyai pacar.

Hari ketika selesai masa kaderisasi, Rosa mengenakan kerudung. Tapi jauh sebelum itu, Radit memang sudah menyatakan persaannya pada Rosa. Radit sempat bilang, Rosa mengingatkannya pada Tia, hanya saja, Tia jauh lebih cewe dibandingkan Rosa yang agak tomboi. Tabiat Tia jauh lebih halus, dari pada Rosa yang kasar. Tapi ya, itulah Rosa. Rosa yang tidak ingin menghianati kekasihnya. Tapi apa nyatanya, kesetiaan Rosa dibalas tuba, pohon yang akarnya mengandung racun. Ya itulah Dias, yang kemudian menjadi mantan Rosa. Rosa tipikal orang yang tidak mudah jatuh cinta, termasuk pada Radit.

Ternyata, memang tidak ada yang tau mengenai hati seseorang. Setelah lama mencoba, akhirnya Radit bisa mendapatkan Rosa. Sebelumnya, memang ada unsur ‘kasihan’ dan unsur teman-teman yang memaksa Rosa menerima Radit. Sebenarnya, saat ingin menerima Radit, ada ‘ragu’ dalam diri Rosa atas Radit. Entah apa yang menjadikan hatinya tidak ‘mantap’ menerima Radit. Tapi tetap saja harus coba untuk menjalani suatu hubungan dengan Radit, yang kemudian status mereka adalah pacaran.  Walaupun begitu, hanya segelintir orang saja yang tau kebenarannya.

Singkat cerita sebelum hari ini tiba. Hari pengakuan Radit.

“Kamu inget Tia kan Cha?” Radit kembali bertanya. Seketika lamunan menyedihkan itu sirna, walau kepingan memori kenapa keraguannya itu tetap saja memilih Radit masih terhampar jelas di matanya.

“Eh, em, iya Dit. Aku inget ko, karena Tia itu alesan pertama kamu sebelum nembak aku. Ngga mungkin aku lupa. Tapi yang jelas, aku sama Tia itu dua individu yang beda. Sama sekali ngga ada kesamaan pada diri dan fisik kami.” Ucapnya panjang lebar, suaranya terdengar agak tinggi. Namun Oca tetap bisa mengendalikan dirinya. Dilihatnya Radit yang agak kaget mendengar pernyataan pacarnya itu dengan tatapan tidak percaya.

“Iya, bener Cha. Tapi itu pada awalnya. Aku sadar ko, dia ma kamu emang jauh berbeda. Kamu emang jauh lebih cantik, dan jujur aja kamu manis banget. Awalnya emang aku obsesi karna kamu mirip Tia, tapi ternyata obesei aku itu salah. Aku terlanjur sayang sama kamu Cha”  ucap Radit kemudian segera mengalihkan pandangannya dari Oca.

“Tapi Cha, Tia dateng lagi dalam hidup aku. Dia tiba-tiba ngehubungin aku. Dia tanya tentang perasaan aku” tambah Radit, tertunduk. Oca tercengang, bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Radit masih diam setelah berkata seperti itu. Oca melayangkan pandangannya pada langit yang gelap, sepi, tanpa bintang. “Terus???” katanya perlahan.

Oca kembali menatap Radit yang tengah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Kamu ngebela-belain dateng ujan-ujan, cuma mau bilang kalo kamu masih sayang sama dia? Tau apa?! Terus kamu mau aku gimana?” tanya Rosa dengan suara yang kacau. Rosa mencoba untuk tidak menangis, tetap terlihat biasa, dan berusaha agar terlihat seperti orang yang tidak tersakiti.

“Bukan gitu Cha! Aku udah bilangkan, aku sayang sama kamu Cha. Aku ngga mau kehilangan kamu. Tapi aku juga ngga mau kehilangan kesempatan yang udah lama banget aku nantiin, dimana Tia akhirnya mau jadi pacar aku.”

Dengan gamblang dan dengan tanpa rasa bersalahnya Radit memaparkan hal itu. OMG! Rosa menganga, lalu cepat-cepat ia bersikap ‘biasa saja’. Rosa mencoba senyum, tapi, kemudian dia berkata dengan nada 1 tingkat lebih tinggi. “Oooh.. berarti selama ini, kamu cuma ngejadiin aku serep? Sementara Tia belum nerima kamu, kamu pacaran ma aku. Gitu maksud kamu?!”

“Bukan gitu Cha.. dengerin aku, aku sayang sama kamu, aku ngga mau kita putus..”

“Trus, kalo kamu ngga mau putus, kamu maunya apa?! TEGA kamu ya Dit! Kamu maunya tetep pacaran sama aku, tapi kamu juga pacaran sama cewe itu. Gitu?!”

Sesaat wajah Radit tampak tidak percaya, “kalo emang itu mungin..” katanya datar. Mata Oca berkaca-kaca, dipandanginya wajah Radit dari samping. Radit terus menunduk, mungkin karena ia tidak berani menatap langsung wajah kekasihnya itu.

“HAH?! Ya ampuun.. Astagfirullah.. Radiiit..” ucap Oca dengan nada yang nyaris tidak terdengar. Suasana hening sesaat, “kalo emang itu mau kamu, yauda putusin aja aku.” Tambah Oca dengan suara super pelan, Oca masih tetap menatap Radit, dalam hatinya seolah terhujam berbagai macam senjata tajam yang mengoyak hatinya. Luka, dan sakit. Mungkin itu gambaran besarnya tentang apa yang tengah dirasakan Rosa. Radit menoleh, menatapnya kaget.

“Cha..?”

“Iya dit, kalo emang kamu masih sayang sama dia. Kenapa kamu nembak aku? Kenapa kamu musti mati-matian ngeyakinin aku, kalo kamu sayang sama aku? Kenapa kmau ngga bener-bener nungguin dia? Kenapa harus aku, orang yang kamu giniin Dit?! Kenapa Dit..??!”

“Cha, aku minta maaf.. aku ngga bermaksud nyakitin kamu. Aku serius, aku beneran sayang sama kamu.”

“Kalo emang kamu sayang sama aku, kamu ngga mungkin dan ngga akan nyakitin aku kya gini Dit”

Radit diam.

“Sekarang aku minta sama kamu Dit, tolong.. putusin aku.”

***

Malam itu adalah hari dimana hatinya remuk redam untuk yang kedua kalinya. Hari dimana walaupun dia merasakan sakit yang teramat, tapi dia tetap tidak menangis. Tidak setitik pun air matanya di keluarkan untuk lelaki yang menyakitinya. Cukup, Juli sajalah yang mewakilkannya menampar Radit. Dan cukup, Andi sajalah yang mewakilkan kemarahannya pada Radit.

Ternyata, kedua temannya itu sudah mengetahui tentang masalah Radit dan Tia. Mereka berdua minta maaf pada Rosa karena orang yang mereka kandidatkan sebagai yang terbaik untuk Rosa, malah berlaku sangat tidak baik padanya. Tamparan dan tonjokan dari Juli dan Andi mewakili rasa lara pada hatinya.

Tidak usah marah, tidak usah juga menampar untuk memberikan seseorang ‘pelajaran berharga’. Cukup dengan tetap tegar dan berusaha untuk tidak menunjukan sakit pada dia yang telah menyakitimu, adalah tamparan dan pelajaran yang berharga baginya. Karena dengan begitu, walau tidak secara fisik sakit, tapi setidaknya hatinya merasa tidak enak, tidak nyaman, karena kesalahan yang telah diperbuatnya pada kita yang tersakiti. Tapi, bukan berarti tidak memaafkan kesalahan orang tersebut.

Seperti, hari setelah hujan. Terkadang, walau tidak selalu ada pelangi yang menyejukan hati, tapi setidaknya, hari setelah hujan membuat banyak binatang bernyanyi (seperti jangkrik, denting tetes hujan dll) selain itu, hari setelah hujan adalah cerah iya kan. ^_^

TAMAT

2 comments on “Hari Setelah Hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s