Pengaruh Film Kartun Terhadap Balita

Pengaruh Film Kartun Terhadap Balita

(http://ghiboo.com/assets/modules/article/images/big/anak-nonton-4e6ed29866bc8.jpg)

 

Balita (Bayi Lima Tahun) adalah masa dimana manusia mampu belajar dengan kemampuannya secara optimal, pada masa ini banyak hal yang dilakukan oleh manusia. Kecerdasan yang dimilikinya dikembangkan dengan optimal, kemampuan menirunya bahkan konon mampu mengalahkan canggihnya komputer.

Kemapuannya yang begitu luar biasa itu membuat balita sebenarnya rentan disusupi oleh hal-hal negatif, namun hal itu terjadi hanya kalau pengawasan dari orang tua yang kurang. Bahkan dalam kitab suci Al Qur’an disebutkan “Seseorang itu dilahirkan dalam keadaan Islam, orang tuanyalah yang menjadikan mereka Yahudi, Nasrani dan Madjusi”, itulah bukti betapa pentingnya fungsi didikan orang tua terhadap anaknya.

Pentingnya peran orang tua dalam tumbuh kembangnya buah hati sudah tidak dapat dielakan lagi, mereka merupakan contoh pertama   sang buah hati. Namun ternyata tidak hanya peran orang tua saja yang mampu memberikan dampak bagi balita, ada hal yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang balita salah satunya adalah tayangan film kartun televisi.

Televisi merupakan salah satu media yang mampu mempengaruhi kehidupan manusia tidak terkecuali balita, dari televisi mereka dapat mengaplikasiakan apa yang mereka dengar dan mereka lihat.

Salah satu tayangan yang menarik bagi mereka adalah film kartun, film kartun disukai karena tampilannya yang menarik, lucu, serta mereka dapat berimajinasi dengan fantasi mereka. Pencipta-pencipta film kartun memang dibuat bergelimang harta karena hal tersebut, apalagi di era millennium ini banyak sekali film kartun yang di produksi.

Banyaknya film kartun tersebut bukannya membuat gembira, namun justru membuat masalah yang jauh lebih kompleks lagi. Hal ini disebabkan banyaknya film kartun yang kurang pantas di tonton oleh para balita, karena kartun yang ada sekarang ini adalah kartun yang ditujukan pada kaum remaja.

Penulis melakukan penelitian kepada anak berusia 2 tahun, hasilnya adalah pengaruh tayangan televisi khususnya film kartun jelas terasa sekali. Dia sering sekali menonton film Crayon Shin-Chan serta Upin dan Ipin, kedua kartun tersebut telah melekat pada pikirannya. Hal ini dibuktikan dengan ucapan-ucapannya, menirukan gaya-gayanya, serta keinginannya untuk membeli benda-benda berbau Crayon Shin-Chan serta Upin dan Ipin.

Ternyata pengaruh tersebut memang tidak bisa terelakan lagi, bahkan tidak jarang kalau dia sedang menangis dia akan berhenti jika disebutkan nama Shin-Chan atau pun Upin dan Ipin. Hal ini memang terasa janggal oleh sebagian orang, karena mengapa film kartun dapat berperan cukup besar dalam tumbuh kembang anak.

Namun bagi kalangan pemerhati tumbuh kembang anak itu merupakan hal yang sangat biasa, karena beberapa survey dan penelitian menyebutkan bahwa televisi mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap rangsang otak manusia. Sedangkan balita adalah seorang “Peniru” paling ulung di dunia, sehingga mereka mampu merespon cepat apa yang mereka dengar dan lihat.

Banyak hal yang belum diketahui oleh orang tua sekarang yang masih membiarkan saja anaknya melihat film kartun kesayangannya tanpa mendampinginya, padahal itu merupakan tindakan yang “Ceroboh” karena meraka tidak akan tahu apa dampak yang cukup berbahays dari hal tersebut.

Anak-anak mereka dapat meniru hal-hal yang seharusnya belum saatnya dilakukan oleh anak seusia mereka, hal yang lebih parah adalah kalau anak tersebut melihat film kartun yang berbau perang. Mereka dapat menirukan adegan-adegan perang yang ada dalam tayangan tersebut baik dengan dirinya sendiri maupun orang lain.

Banyak kasus kekerasan yang terjadi diakibatkan oleh tayangan televisi khususnya film kartun, hal ini di sebabkan kurangnya pengawasa yang dilakukan oleh orang tua sehingga hal inidapat terjadi. Kasus yang paling mengerikan adalah meninggalnya seorang bocah akibat terlilit ikat pinggangnya sendiri, bocah itu mencoba menirukan gaya tokoh kartun ninja kesayangannya.

Tragis memang kejadian itu, namun apa daya toh itu hanyalah gambaran kecil yang ada di sekitar kehidupan kita. Pengawasan dan pengajaran yang kurang tepat juga pernah dialami oleh seorang balita di Indonesia, karena orang tuanya kurang berhati-hati dalam memperkenalkan lingkungan sekitarnya kepada balita tersebut sehingga dia meniru perilaku dan kata-kata orang dewasa di sekitarnya.

Dia seorang balita yang sudah pandai berbicara dengan menggunakan kata-kata “Orang dewasa”, serta yang leboh parah lagi dia juga menghisap rokok sama seperti orang dewasa kebanyakan. Hal ini sempat menggegerkan seluruh Indonesia bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun ikt berbicara, sehingga kasus tersebut menjadi kasus nasional.

Berbeda dengan balita yang penulis teliti, dia memang terkadang berbuat nakal tapi masih dalam batas kewajaran yang dilakukan oleh balita seusianya. Itu dikarenakan orang yang merawatnya (kakek dan nenek) mengajarkan hal-hal yang positif, dan apabila dia menonton televisi dia selallu ditemani.

Pada dasarnya didikan orang yang merawat balita itulah yang menjadi tolak ukur apakah balita tersebut akan tumbuh menjadi anak yang baik atau justru akan menjadi anak yang di luar harapan orang tuanya. Bimbingan apa pun tanpa didikan dari dalam rumah itu hanya akan menjadikan anak itu seperti “Sayur tanpa garam”.

Bahkan para orang tua harus berhati-hati pada anak yang bermain dengan temannya yang tanpa pengawasan yang baik dari orang tuanya. Karena bisa jadi mereka melihat hal-hal yang belum saatnya mereka lihat di televisi untuk seusianya.

Hal lain yang harus diwaspadai oleh orang tua adalah media yang mereka gunakan, karena sekarang sedang maraknya dunia maya yang memberikan kesenangan untuk anak-anak kecil. Walaupun mereka tidak bisa melihat televisi ataupun mengakses internet sendiri, tapi ingat masih ada kakak atau teman yang sudah mengerti menggunakan alat-alat tersebut yang notabennya mereka belum mengerti juga mana yang baik dan mana yang buruk.

Kesimpulanya adalah pengawasan terhadap balita memang harus lebih jika dibandingkan dengan anak usia remaja atau pun dewasa. Karena masa balita merupakan masa “Peniruan” tehadap lingkungan sekitarnya. Jangan pernah membiarkan balita menonnton Televisi atau pun mengakses internet tanpa orang tua atau pun orang yang dapat dipercaya untuk mendandampinginya.

Serta saat mendampingi anak melihat film kartun atau pun tayangan televisi lainya, orang tua juga harus memberikan pengarahan yang baik apa yang harus dilakukan.

Oleh Nana Cholisna

By Nana Cholisna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s